Tidak pernah disangka-sangka sebelumnya aku bisa menginjak tanah di Nusa Tenggara Timur ini, tepatnya di tanah flores ini, jangankan membayangkan menginjakkan kaki disini mendengar saja saya sudah enggan.. hehehe..
Momen lebaran salah satu momen yang ditunggu2 gag Cuma ditunggu anak-anak, tapi hampir semua umat menunggu moment ini. Apalagi bagi kami, orang-orang yang hidup dirantau seperti ini salah satunya, bagi kami lebaran itu sebagai momen harapan, harapan kalau paling ga pulang sekali dalam setahun saat momen ini.
Tapi buat kami (saya dan teman2) lebaran tahun ini berbeda, sudah dari awal saya merencakan lebaran kali ini tidak mudik, selain memang tepat sebulan lalu sudah pulang ke rumah, liburan kali ini ingin dimanfaatin untuk liburan keliling flores, pulau yang belum saya kenal sebelumnya tapi ternyata pulau ini sudah mendunia, jadi ingat dulu ketika membaca sebuah Headline Koran ketika di Malang, Manggarai tempat yang Mendunia baru Menusantara.
Perjalanan ini dimulai dari keinginan menjelajahi tempat-tampat yang kami tinggali, dan ternyata pulau flores ini pulau yang sudah terkenal di dunia tentang wisatanya jadilah bertanya sana-sini tentang tempat-tempat menarik di Pulau flores ini, dari danau kelimutu yang katanya mistis, dan pulau2 tempat pulau komodo tinggal, dan hasilnya kami punya rencana pertama2 kami menuju kelimutu, dari ruteng ke Ende kami tempuh dengan jalur darat, trus sehari di Ende setelah itu pergi ke ruing, yang terkenal dengan 17 pulaunya, lokasinya di selatan bajawa sekitar 4 Jam dari kota ende, setelah itu kami berencana mengunjungi Soa Bajawa, salah satu objek pemandian air panas di pulau Flores, baru setelah itu baru menuju utara flores, ke labuhan bajo dan pulau2 tempat komodo tinggal.
Namanya juga rencana, bisa berubah menyesuaikan keadaan. Saya jadi ingat pertanyaan teman, kenapa kok lidah tidak bisa rusak, sedangkan gigi mudah rusak. Jawabannya lidah itu fleksibel sedangkan gigi keras, hehehe,, nyambung gag ya?? Intinya fleksibel saja selama itu menyenangkan.
Disini perjalanan dimulai, sudah lama kami menunggu waktu ini, karena besok pagi kami sudah cuti bersama dan libur lebaran yang kalau ditotal satu minggu kerja, Hari itu Jumat tanggal 26 Agustus 2011, sore hari saya pergi memesan Travel untuk perjalanan di Ende, dan sampai agen kami sempat kehabisan travel untuk kami berangkat pagi ke Ende, tetapi tenang saja untuk mencari travel bukanlah hal yang sulit karena di depan tempat agen pemesan travel sudah banyak calo2 travel yang siap membantu, dan tradisi disini tidak usah ribet cukup tinggalkan no hp saja, biasanya mereka sudah percaya, gag perlu uang muka gag perlu kwitansi, gag perlu tulis menulis dan akhirnya perburuan travel selesai dan esok pagi kami harus bersiap pagi2.
Minggu, 28 Agustus 2011 jam 07.30 travel kami sudah siap, lebih cepat setengah jam dari waktu yang dijanjikan, sebuah mobil avanza berwarna hijau siap mengantar kita menuju ende, jalur ruteng-ende bukan jalur biasa, ditempuh selama delapan jam dengan jalan penuh kelokan, bener-bener seperti uler yang melingker-lingker jalannya, bating kiri-terus banting kanan-banting kiri lagi, dan hebatnya supir travel disini sudah biasa dan terampil mengemudikan, jadinya ketika belokan bukanya di rem tapi malah tancap gas, benar2 tidak recommended buat driver pemula. Dalam perjalanan itu ada dua teman kami yang diam dan akhirnya melambaikan tangan tidak kuat alias mabok, hehehe, silahkan dicoba gan.

Ini yang gambar yang saya ambil ketika terbang diatas pulau flores ini, bisa dilihat dengan kontur bergunung gunung seperti ini otomatis jalan daratnya berkelok-kelok, jadi wajar kalo buat orang yang gag terbiasa jalanya membuat pusing dan memabokkan.
Dalam perjalanan yang kami lalui, saya melihat ke unikan pulau ini dari keindahan alamnya, sampai melihat ada daerah yang subur sekali, dan ada juga daerah yang sangat tandus, kami sempat singgah sejenak di Aumere, disini biasanya para supir travel mengistirahatka penumpannya dalam jalur ruteng menuju ende, sekedar makan dan buang air. Tetapi karena waktu itu kami sedang puasa, kami memilih tidak menuju ke warung makan peristirahatan kami memilih melihat-lihat dermaga Aumere yang kebetulan letaknya tepat di depan tempat pemberhentian kami. Sudah hampir dua bulan berada di flores tapi belum sempat sama sekali datang ke pantainya sama sekali, momen ini momen pertama saya mengunjungi pantai di Flores.

Dermaga Aumere

Menikmati pemandangan di sela2 perjalanan
14.30 kami sampai di Ende, dan tinggal di tempat teman kami di rumah dinas KPPN Ende, lumayanlah dapet tebengan paling ga selama berada di Ende, soalnya jadwal kami sedikit berubah karena apabila kita mengikuti rencana kita sebelumnya perjalanan lewat jalur darat ke labuhan bajo bisa seharian lebih, dengan jalur yang kurang bersahabat dikhawatirkan malah tidak menikmati perjalanan. Sehingga kami memilih untuk lewat jalur udara saja, 15 menit sampai labuhan bajo, jadi kami berada di Ende selama 3 hari minggu sore-rabu pagi.
Hal yang pertama kali kami lakukan ketika kami sampai Ende adalah menyelonjorkan kaki, maklum duduk di mobil selama delapan jam bikin badan pegal-pegal, setelah cukup istirahat pun saya diajak si Robet mencari pinjaman motor ke teman KPP Ende, untuk sarana transportasi kami selama di Ende. Sore itu kami berencana melihat sun set di pantai, tapi berhubung kita kesorean waktu itu jadi tidak sempat melihat sun set di pantai, tapi tidak papa sore itu kita habiskan sambil duduk ngobrol di violet cafe di pinggir pantai di Ende, sekaligus memesan menu untuk buka puasa, setelah selesai makan dan ngobrol sana-sini saatnya pulang sekaligus mencari travel untuk pergi ke danau Kelimutu esok paginya. setelah dapat travel kami segera pulang dan istirahat karena besoknya kita harus sudah berangkat pukul 03.30, harus pagi-pagi buta jika kami ingin melihat Sun rise di puncak karena perjalanan dari kota Ende ke Kelimutu ditempuh sekitar dua jam.
Pagi itu sehabis sahur kami bersiap-siap menunggu jemputan travel, tidak lama kami menunggu jemputan datang mobil Inova tampilan luarnya cukup keren dengan lampu warna-warni, kondisi jalan waktu itu sangat sepi jadi dari jauh travel kami seperti raja jalanan, dan seperti sudah tradisi setiap travel disini masti mutar lagu disko, dengan speaker sub wofer yang mantab efek bass dari lagu2 yang diputar sangat luar biasa, kaca mobil saja sampe berbunyi terrr…. Terrr…. Terrrr…. Wew batin saya dalam hati.
Efek dari musik disko si travel tadi luar biasa, awalnya kami berencana untuk melanjutkan tidur lagi saat perjalanan tapi karena efek musik yang meledak-ledak membuat kami terpaksa terjaga, bisa tidur itu pula hanya sebentar bentar saja, dua jam kita lewati sambil menikmati musik (walaupun dengan terpaksa.. hehehehe), perjalanan dari kota Ende ke Danau kelimutu meliwati jalan berkelok-kelok juga layaknya jalan pegunungan, akhirnya setelah dua jam perjalanan kami pun sampai, dan sopir travel ini mempunyai cara yang unik untuk membangunkan penumpangannya dia besarin volume musiknya sampe paling gede, otomatis teman2 yang tertidur saat itu terbangun.(sungguh cara yang tidak manusiawi.. Hahahaha)
Saatnya Menuju Ke Puncak



Untuk mencapai puncak kelimutu bukanlah hal yang begitu sulit, karena sudah dibuat tangga untuk mencapai puncaknya, Melihat Sun Rise di Puncak Kelimutu adalah suatu kenikmatan tersendiri, selain kita bisa melihat indahnya Sang Fajar ketika dia mulai terbangun dari tidurnya, keindahan danau Kelimutu membuat saya berdecak kagum, subhanalah.. Allah Maha Besar, dia ciptakan pemandangan Seindah Ini, sudah dipuncak gunung, kelimutu pula. Bisa saya ibaratkan keindahan pagi itu adalah pangkat dua, indah sekali.
Keindahan Danau Kelimutu sudah terkenal di dunia, Ceritanya jaman dulu danau ini berupa gunung dan setelah gunung itu meletus, muncul tiga kawah yang masyarakat disitu menyebutnya dengan “Tiwu” yang bahasa orang setempat berarti danau atau kolam, pertama Tiwu Ata Pulau, dulu warnanya merah, trus coklat seperti kopi, dan kemarin kita kesana berwarna biru tua, yang disini dipercaya menjadi tempat bersemayam roh jahat. Danau yang kedua bernama Tiwu Nua Muri Koo Fai, yang berwarna hijau dipercaya sebagai tempat bersemayam Muda-mudi, dan yang ketiga Tiwu Ata Mbupu tempat arwah orang tua maupun orang bijaksana. Menurut warga setempat ketiga danau itu adalah “rumah menetap” para arwah selama-lamanya dan sebelum menetap para arwah harus menghadap Konde Ratu atau penjaga Pintu istana Parakonde, setelah memperoleh izin barulah mereka menetap di salah satu danau.
Tidak ada yang mengetahui kapan pastinya danau itu berubah warna dan penyebabnya apa danau itu berubah warna, perubahan warna terjadi secara tiba-tiba, sampai sekarang sudah berpuluh kali kelimutu berganti warna, bisa dibaca di papan keterangan dijalan ketika dalam perjalanan menuju puncak kelimutu.
Kata orang Di permukaan danau kelimutu itu kedap udara, dulu pernah diceritakan disini ada beberapa orang yang bunuh diri masuk ke dalam danau, untuk mengangkat jenasah orang2 itu diperlukan Tim Sar dengan peralatan lengkap, sekaligus upacara adat terlebih dahulu. Sempat saya berbincang dengan orang setempat dan mendapatkan beberapa cerita menarik mengenai tempat ini, tapi kali ini tidak akah saya ceritakan semua, bagi yang ingin mengetahui cerita apa saja yang saya dapatkan Silahkan kontak no Hp, Facebook, atau email saya biarkan saya dan pembaca tulisan ini saling mengenal dan silaturahmi, lumayan untuk mengobati rasa penasaran tapi buat teman2 pembaca yang tidak penasaran ya tidak apa2…. (bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar