Note ini ditulis buat nambahin wawancara si Ocha kemarin, hehehe,
siapa tahu bisa jadi tambahan materi buat skripsinya cha. Barusan saya
kepikiran tentang konsep bahagia lagi, masih berkaitan dengan bahagia
dengan syarat dan bahagia tanpa syarat.
Syarat itu
cenderung muncul ketika kita berfikir tentang sebab akibat dari suatu
perbuatan atau tindakan. Untuk kasus bahagia dengan syarat, akibatnya
bahagia dan syaratnya adalah sesuatu yang menyebabkan bahagia itu
sendiri, misalnya kalau saya bisa mendapatkan gaji 100 juta perbulan
berarti saya bahagia, jika saya bisa membeli rumah sendiri saya bahagia,
apabila saya bisa mengerjakan tugas saya tepat waktu saya akan bahagia,
apabila saya bisa menyenangkan orang tua saya bahagia.
Ada
sebagian orang juga berfikir buat bahagia kok repot-repot, yang penting
bersyukur saja cukup. Mengenai masalah bersyukur saya pernah membaca
“sentilan” seorang sastrawan, idola saya mas Prie GS. “Buat bersyukur
kok repot-repot, cukup meraba telinga kita dan menemukan telinga kita
masih ada dan bekerja sesuai fungsinya itu sudah cukup untuk membuat
saya bersyukur”. Untuk bersyukur dan bahagia sebenarnya tidak susah tapi
kita saja yang membuatnya susah untuk kita alami.
Sedikit mereview dan sekedat menyegarkan kembali ingatan kita tentang otak kanan dan otak kiri. Berpikir ala otak kiri,
pola pemikirannya cenderung Systematic, Runtut, penuh pertimbangan,
Pikiran yang sangat logis, taat pada azas, sibuk mengamati efek dan
perbandingan. Segalanya perlu dasar, segalanya perlu pertimbangan,
segalanya perlu sebab itu yang dipikirkan oleh orang-orang yang
cenderung punya pemikiran tipe otak kiri, bisa dikatakan juga kalau
pemikiran ini dilakukan oleh-oleh orang-orang yang berusaha melogika
semua fenomena yang terjadi dalam hidupnya (thinking).
Berpikir ala otak kanan
cenderung Menyukai spontanitas, penuh kebebasan, tanpa aturan. Proses
berpikir PASIF, terkesan seadanya. Biasanya juga pola berpikir ini
dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai pemikiran berdasarkan emosi,
sensing, dan intusii mereka. “Buat kaya gitu kok repot-repot”, itu kata
yang sering di ucapkan oleh orang-orang tipe oka’ers, otak kanan
junkie. Orang yang otak kanan cenderung orang yang berani dan cepat
mengambil keputusan dalam hidupnya, menurut saya, berpikir ala otak
kanan ini cenderung bagus untuk banyak kasus. Contohnya ketika kita mau
berbuat baik, gag usah dipikir jalan aja. Untuk memulai usaha, banyak
pengusaha yang memulai bisnisnya dengan istilah “Asal mlaku wae, sing
penting sukses” asal jalan aja yang penting sukses, kalau ada masalah
dipikir nanti.
Menurut saya kedua cara bahagia ini semua
bagus kita terapkan ada kalanya kita menerapkan bahagia tanpa syarat dan
ada kalanya kita menetapkan bahagia dengan syarat. Nah pertanyaannya
kapan baiknya kita memakainya syarat dan tanpa syarat.. Kalau saya
menjawabnya setiap waktu kita pakai dua-duanya, hehehe.. sedikit rakus
memang.hehehe..
Kenapa kok dua-duanya dipake terus, setiap waktu pula??
Sebelum
pertanyaan diatas saya jawab, state bahagia itu ketika suasana hati
terasa ringan banget (maksudnya tidak ada beban yang dirasakan, state
emosi yang muncul adalah rasa syukur teramat terhadap apa yang kita
miliki, rasa kecukupan, rasa puas akan sesuatu, senang , semangat
menggelora, hawanya senyam-senyum sendiri(bukan senyam-senyum gila lho),
dan masih banyak lagi state yang gag bisa diomomngkan dengan
kata-kata..hehehehe
Bahagia tanpa syarat tu wujud kita
bersyukur dengan apa yang telah kita peroleh, bersyukur dengan kesehatan
kita hari ini, bersyukur telah diberi orang-orang yang mencintai kita,
bersyukur dengan setiap udara yang bisa kita hirup. Bersyukur dengan apa
yang allah beri secara Cuma-Cuma ini, allah aja memberinya tanpa syarat
apapun, kok kita bahagia aja perlu syarat.. hehehe
Bahagia
dengan syarat juga baik tujuannya agar kita selalu termotivasi, selalu
berhasrat untuk mencapai apa yang telah kita impikan, dengan kita
memakai syarat bawah sadar kita akan merespon dan mengejar apa yang
telah kita syaratkan tadi, toh bawah sadar kita selalu ingin membuat
kita bahagia. Bawah sadar kita selalu ingin yang terbaik buat kita,
orang yang mempunyai hasrat yang tinggi untuk mencapai apa yang
diimpikannya cenderung mempunyai semangat yang tinggi dalam hidupnya.
Tubuhnya merespon untuk bekerja, berpikir, dan berbuat lebih cepat.
Ujung-ujungnya
semua dikembalikan ke diri kita sendiri, semua ada baiknya selama itu
membuat kita setiap hari bersemangat dan tiap hari selalu mengucap
syukur kepada sang pencipta.
_Salam yepe Adi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar