Laman

Jumat, 16 Desember 2011

Menjadi Pembelajar Seumur Hidup

Beberapa hari yang lalu saya pribadi sempat merasa capek dengan apa yang saya lakukan, setiap hari hanya baca buku, ikut seminar-seminar, belajar di kelas formal dan saat itu tiba rasa jenuh akan semua itu. Apa yang sebenarnya saya cari selama ini? itu yang sempat saya pikirkan saat itu. Lelah dengan rutinitas belajar dan belajar. Banyak yang saya ingin tahu, lantas apa kalau tahu. Itu juga pertanyaan racun yang sempat hinggap di kepala saya dan hampir saja menggerogoti seluruh semangat untuk belajar dan menemukan hal-hal baru saat itu.

Mungkin banyak diantara teman-teman yang merasakan hal yang sama, merasa jenuh dan lelah akan pembelajaran, roda memang berputar kadang diatas dan kadang diatas. Demikian pula hidup kita, dan kadang orang bilang semangat kita juga. Kalau masalah semangat ini saya termasuk yang percaya bahwa putaran semangat bisa kita atur terus, bisa kita usahakan agar tetap diatas terus. Semangat on terus.

Karena saya yakin semangat itu bisa kita atur agar terus di atas, salah satunya dengan mengubah niat saya belajar yang awalnya karena pengen tahu saja, saya rubah menjadi saya ingin menjadi seorang pembelajar seumur hidup. Pembelajar adalah orang yang selalu belajar disetiap kesempatan waktunya, setiap harinya adalah belajar. Semoga dengan mengubah niat ini semangat selalu membaca buku, diskusi, dan mencari ilmu dari guru terus berkobar dalam hati saya. Dan semoga dengan ini bisa membawa saya ke derajat lebih tinggi dihadapanNya, dihadapan sang kuasa.

Satu hal yang saya pelajari hari ini Belajar sesungguhnya adalah dengan menuliskannya kembali, kenapa karena tulisan itu abadi, apabila ilmu itu tidak kita abadikan hanya bersifat sementara dan akan hilang. Sepintar apapun orang, sebesar apapun karya tapi kalau tidak abadi juga akan sia-sia. Sesuatu yang hanya diomongkan akan lenyap dan sirna, dan dengan dituliskan semuanya akan abadi.

Hal ini mengingatkan saya akan tugas kuliah yang musti dikerjakan, tugas menulis yang gag akan selesai kalau tidak dikerjakan dengan konsisten dari dalam diri ini, semangat berkarya, semangat belajar, semangat berbagi..

Selasa, 22 November 2011

Buku Bagi Anak Nelayan Tanjungmas

Ilmu bagi anak-anak nelayan di daerah Tanjungmas seperti telaga teduh bagi musafir yang berkelana. Perihnya hidup karena kurangnya pengetahuan akan sirna seiring datangnya cakrawala ilmu, bernama : buku.


Daerah yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan ini tergolong masyarakat sederhana. Daerah tersebut rawan terjadi rob, bahkan setiap malam rumah-rumah yang berada di sekitar tambak kerap digenangi rob hingga ketinggian satu meter. Tempat yang mereka huni tersebut tergolong daerah yang sulit dijangkau oleh khalayak. Hal ini dikarenakan akses transportasi yang belum memadai yakni jalan menuju salah satu RT di Tambekrejo yang terpisahkan oleh tambak sehingga orang yang ingin menjangkau daerah tersebut harus melewati jembatan nonpermanen yang terbuat dari bambu. Penduduk di daerah tersebut rata-rata berpendidikan rendah, selepas SD biasanya mereka memutuskan untuk bekerja atau membantu orang tua mencari ikan. Kondisi tersebut membuat pola pikir yang tidak pernah berubah dan memprihatinkan.  Realitas inilah yang mendorong kami untuk merintis sebuah rumah pintar yang dilengkapi dengan buku-buku bacaan dan pelajaran sebagai wadah memperluas pengetahuan anak-anak usia sekolah.

Rupanya tinggal di ibu kota Provinsi Jawa Tengah bukanlah jaminan untuk menjadi orang yang berilmu. Banyak di antara anak-anak usia sekolah yang tidak mampu membaca dan berhitung, sebagian dari mereka mereka memutuskan untuk berhenti bersekolah, dan bekerja tanpa bekal ilmu yang memadai. Alih-alih untuk membeli buku, sebagian besar pendapatan warga sudah di "booking" untuk mencukupi kebutuhan harian mereka.  Kalaupun ada sisa, uang mereka habis untuk memperbaiki rumah yang setiap malam terendam rob. Oleh karena itu, tidak heran jika beberapa anak-anak nelayan memutuskan untuk putus sekolah karena jeratan ekonomi atau pola pikir yang belum maju, buat apa bersekolah toh ujung-ujungnya tetap miskin. Kalaupun ada anak-anak yang bertahan untuk bersekolah, namun fasilitas yang mereka miliki masih sangat terbatas, terutama buku pelajaran dan buku bacaan. Tidak heran jika keberadaan rintisan rumah pintar yang dilengkapi dengan buku-buku bacaan dan pelajaran pada akhirnya bisa menjadi salah satu gerbang bagi anak-anak di Tambakrejo untuk memperluas cakrawala pengetahuan mereka.

rumah pintar ini akan didirikan oleh mahasiswa Universitas Negri Semarang (UNES) dan dibantu oleh tim dari sedekahpendidikan.org, Kami bermaksud  mengajak saudara, teman-teman, dan siapapun untuk membantu dalam pengadaan buku pelajaran ini, kegiatan ini sekaligus membuat sebuah rintisan rumah pintar yang dilengkapi dengan buku-buku bacaan dan pelajaran. Berdasarkan rencana, rintisan rumah pintar akan bertempat di gedung PAUD Sifana yang merupakan sebuah PAUD binaan PT Pertamina dan Unnes. Meskipun bangunan rumah pintar yang kami rintis masih menumpang dengan bangunan lain, tapi hal ini tidak menutup kemungkinan bagi anak-anak yang ingin belajar untuk berkunjung ke sana.


Kami mengajak para donatur untuk untuk mengulurkan tangan dan ikut menyumbang kepada tunas bangsa yang merindukan ilmu untuk kehidupan yang lebih baik. Sumbangan dapat disalurkan dengan menghubungi tim sedekah pendidikan no hp 085643434455 (Y.P. Nugraha)

Minggu, 11 September 2011

Flores Trip Merasa Menjadi Orang Asing di Negeri Sendiri (Part 1)

Oleh  yepe adi
Tidak pernah disangka-sangka sebelumnya aku bisa menginjak tanah di Nusa Tenggara Timur ini,  tepatnya di tanah flores ini, jangankan membayangkan menginjakkan kaki disini mendengar saja saya sudah enggan.. hehehe..
Momen lebaran salah satu momen yang ditunggu2 gag Cuma ditunggu anak-anak, tapi hampir semua umat menunggu moment ini. Apalagi bagi kami, orang-orang yang hidup dirantau seperti ini salah satunya, bagi kami lebaran itu sebagai momen harapan, harapan kalau paling ga pulang sekali dalam setahun saat momen ini.
Tapi buat kami (saya dan teman2) lebaran tahun ini berbeda, sudah dari awal saya merencakan lebaran kali ini tidak mudik, selain memang tepat sebulan lalu sudah pulang ke rumah, liburan kali ini ingin dimanfaatin untuk liburan keliling flores, pulau yang belum saya kenal sebelumnya tapi ternyata pulau ini sudah mendunia, jadi ingat dulu ketika membaca sebuah Headline Koran ketika di Malang, Manggarai tempat  yang Mendunia baru Menusantara.
Perjalanan ini dimulai dari keinginan menjelajahi tempat-tampat yang kami tinggali, dan ternyata pulau flores ini pulau yang sudah terkenal di dunia tentang wisatanya jadilah bertanya sana-sini tentang tempat-tempat menarik di Pulau flores ini,  dari danau kelimutu yang katanya mistis, dan pulau2 tempat pulau komodo tinggal, dan hasilnya kami punya rencana pertama2 kami menuju kelimutu, dari ruteng ke Ende kami tempuh dengan jalur darat, trus sehari di Ende setelah itu pergi ke ruing, yang terkenal dengan 17 pulaunya, lokasinya di selatan bajawa sekitar 4 Jam dari kota ende, setelah itu kami berencana mengunjungi Soa Bajawa, salah satu objek pemandian air panas di pulau Flores, baru setelah itu baru menuju utara flores, ke labuhan bajo dan pulau2 tempat komodo tinggal.
Namanya juga rencana, bisa berubah menyesuaikan keadaan. Saya jadi ingat pertanyaan teman, kenapa kok lidah tidak bisa rusak, sedangkan gigi mudah rusak. Jawabannya lidah itu fleksibel sedangkan gigi keras, hehehe,, nyambung gag ya?? Intinya fleksibel saja selama itu menyenangkan.
Disini perjalanan dimulai, sudah lama kami menunggu waktu ini, karena besok pagi kami sudah cuti bersama dan libur lebaran yang kalau ditotal satu minggu kerja, Hari itu Jumat tanggal 26 Agustus 2011, sore hari saya pergi memesan Travel untuk perjalanan di Ende, dan sampai agen kami sempat kehabisan travel untuk kami berangkat pagi ke Ende, tetapi tenang saja untuk mencari travel bukanlah hal yang sulit karena di depan tempat agen pemesan travel sudah banyak calo2 travel yang siap membantu, dan tradisi disini tidak usah ribet cukup tinggalkan no hp saja, biasanya mereka sudah percaya, gag perlu uang muka gag perlu kwitansi, gag perlu tulis menulis dan akhirnya perburuan travel selesai dan esok pagi kami harus bersiap pagi2.
Minggu, 28 Agustus 2011 jam 07.30 travel kami sudah siap, lebih cepat setengah jam dari waktu yang dijanjikan, sebuah mobil avanza berwarna hijau siap mengantar kita menuju ende, jalur ruteng-ende bukan jalur biasa, ditempuh selama delapan jam dengan jalan penuh kelokan, bener-bener seperti uler yang melingker-lingker jalannya, bating kiri-terus banting kanan-banting kiri lagi, dan hebatnya supir travel disini sudah biasa dan terampil mengemudikan, jadinya ketika belokan bukanya di rem tapi malah tancap gas, benar2 tidak recommended buat driver pemula. Dalam perjalanan itu ada dua teman kami yang diam dan akhirnya melambaikan tangan tidak kuat alias mabok, hehehe, silahkan dicoba gan.


                                                  
Ini yang gambar yang saya ambil ketika terbang diatas pulau flores ini, bisa dilihat dengan kontur bergunung gunung seperti ini otomatis jalan daratnya berkelok-kelok, jadi wajar kalo buat orang yang gag terbiasa jalanya membuat pusing dan memabokkan.
Dalam perjalanan yang kami lalui, saya melihat ke unikan pulau ini dari keindahan alamnya, sampai melihat ada daerah yang subur sekali, dan ada juga daerah yang sangat tandus, kami sempat singgah sejenak di Aumere, disini biasanya para supir travel mengistirahatka penumpannya dalam jalur ruteng  menuju ende, sekedar makan dan buang air. Tetapi karena waktu itu kami sedang puasa, kami memilih tidak menuju ke warung makan peristirahatan kami memilih melihat-lihat dermaga Aumere yang kebetulan letaknya tepat di depan tempat pemberhentian kami. Sudah hampir dua bulan berada di flores tapi belum sempat sama sekali datang ke pantainya sama sekali, momen ini momen pertama saya mengunjungi pantai di Flores.

                                                   
                                                       Dermaga Aumere

                                                    
                         Menikmati pemandangan di sela2 perjalanan

14.30 kami sampai di Ende, dan tinggal di tempat teman kami di rumah dinas KPPN Ende, lumayanlah dapet tebengan paling ga selama berada di Ende, soalnya jadwal kami sedikit berubah karena apabila kita mengikuti rencana kita sebelumnya perjalanan lewat jalur darat ke labuhan bajo bisa seharian lebih, dengan jalur yang kurang bersahabat dikhawatirkan malah tidak menikmati perjalanan. Sehingga kami memilih untuk lewat jalur udara saja, 15 menit sampai labuhan bajo, jadi kami berada di Ende selama 3 hari minggu sore-rabu pagi.
Hal yang pertama kali kami lakukan ketika kami sampai Ende adalah menyelonjorkan kaki, maklum duduk di mobil selama delapan jam bikin badan pegal-pegal, setelah cukup istirahat pun saya diajak si Robet mencari pinjaman motor ke teman KPP Ende, untuk sarana transportasi kami selama di Ende.  Sore itu kami berencana melihat sun set di pantai, tapi berhubung kita kesorean waktu itu jadi tidak sempat melihat sun set di pantai, tapi tidak papa sore itu kita habiskan sambil duduk ngobrol di violet cafe di pinggir pantai di Ende, sekaligus memesan menu untuk buka puasa, setelah selesai makan dan ngobrol sana-sini saatnya pulang sekaligus mencari travel untuk pergi ke danau Kelimutu esok paginya. setelah dapat travel kami segera pulang dan istirahat karena besoknya kita harus sudah berangkat pukul 03.30, harus pagi-pagi buta jika kami ingin melihat Sun rise di puncak karena perjalanan dari kota Ende ke Kelimutu ditempuh sekitar dua jam.
Pagi itu sehabis sahur kami bersiap-siap menunggu jemputan travel, tidak lama kami menunggu jemputan datang mobil Inova tampilan luarnya cukup keren dengan lampu warna-warni, kondisi jalan waktu itu sangat sepi jadi dari jauh travel kami seperti raja jalanan, dan seperti sudah tradisi setiap travel disini masti mutar lagu disko, dengan speaker sub wofer yang mantab efek bass dari lagu2 yang diputar sangat luar biasa, kaca mobil saja sampe berbunyi terrr…. Terrr…. Terrrr…. Wew batin saya dalam hati.
Efek dari musik disko si travel tadi luar biasa, awalnya kami berencana untuk melanjutkan tidur lagi saat perjalanan tapi karena efek musik yang meledak-ledak membuat kami terpaksa terjaga, bisa tidur itu pula hanya sebentar bentar saja, dua jam kita lewati sambil menikmati musik (walaupun dengan terpaksa.. hehehehe), perjalanan dari kota Ende ke Danau kelimutu meliwati jalan berkelok-kelok juga layaknya jalan pegunungan, akhirnya setelah dua jam perjalanan kami pun sampai, dan sopir travel ini mempunyai cara yang unik untuk membangunkan penumpangannya dia besarin volume musiknya sampe paling gede, otomatis teman2 yang tertidur saat itu terbangun.(sungguh cara yang tidak manusiawi.. Hahahaha)


Saatnya Menuju Ke Puncak




Untuk mencapai puncak kelimutu bukanlah hal yang begitu sulit, karena sudah dibuat tangga untuk mencapai puncaknya, Melihat Sun Rise di Puncak Kelimutu adalah suatu kenikmatan tersendiri, selain kita bisa melihat indahnya Sang Fajar ketika dia mulai terbangun dari tidurnya, keindahan danau Kelimutu membuat saya berdecak kagum, subhanalah.. Allah Maha Besar, dia ciptakan pemandangan Seindah Ini, sudah dipuncak gunung, kelimutu pula. Bisa saya ibaratkan keindahan pagi itu adalah pangkat dua, indah sekali.
                                                       


Keindahan Danau Kelimutu sudah terkenal di dunia, Ceritanya jaman dulu danau ini berupa gunung dan setelah gunung itu meletus, muncul tiga kawah yang masyarakat disitu menyebutnya dengan “Tiwu” yang bahasa orang setempat berarti danau atau kolam, pertama Tiwu Ata Pulau, dulu warnanya merah, trus coklat seperti kopi, dan kemarin kita kesana berwarna biru tua, yang disini dipercaya menjadi tempat bersemayam roh jahat. Danau yang kedua bernama Tiwu Nua Muri Koo Fai, yang berwarna hijau dipercaya sebagai tempat bersemayam Muda-mudi, dan yang ketiga Tiwu Ata Mbupu tempat arwah orang tua maupun orang bijaksana. Menurut warga setempat ketiga danau itu adalah “rumah menetap” para arwah selama-lamanya dan sebelum menetap para arwah harus menghadap Konde Ratu atau penjaga Pintu istana Parakonde, setelah memperoleh izin barulah mereka menetap di salah satu danau.
Tidak ada yang mengetahui kapan pastinya danau itu berubah warna dan penyebabnya apa danau itu berubah warna, perubahan warna terjadi secara tiba-tiba, sampai sekarang sudah berpuluh kali kelimutu berganti warna, bisa dibaca di papan keterangan dijalan ketika dalam perjalanan menuju puncak kelimutu.

                                                      


Kata orang Di permukaan danau kelimutu itu kedap udara, dulu pernah diceritakan disini ada beberapa orang yang bunuh diri masuk ke dalam danau, untuk mengangkat jenasah orang2 itu diperlukan Tim Sar dengan peralatan lengkap, sekaligus upacara adat terlebih dahulu. Sempat saya berbincang dengan orang setempat dan mendapatkan beberapa cerita menarik mengenai tempat ini, tapi kali ini tidak akah saya ceritakan semua, bagi yang ingin mengetahui cerita apa saja yang saya dapatkan Silahkan kontak no Hp, Facebook, atau email saya biarkan saya dan pembaca tulisan ini saling mengenal dan silaturahmi, lumayan untuk mengobati rasa penasaran tapi buat teman2 pembaca yang tidak penasaran ya tidak apa2…. (bersambung)