Pertanyaannya bagaimana cara memanfaatkan ilmu yang sedikit ini, ntar
lah kalau ilmunya sudah banyak baru praktek, ntarlah kalau udah dapat
gelar baru memulai, ntarlah nunggu waktu yang tepat untuk memulai
ngumpulin ilmu dulu.. hehehe
Ini alasan2 bijak yang
keliatannya bagus, tapi dibalik itu malah membuat diri kita ngak maju2
ke level kualitas yang lebih tinggi, yah sebenarnya yang kita perlukan
bagaimana dengan ilmu yang sedikit ini, dengan ilmu yang sudah kita tahu
tapi bisa kita manfaatkan secara otimal untuk diri kita sendiri dan
orang lain. Selain skill kita meningkat, percepatan akan pembelajaran
akan terjadi disini. Ketika kita berpraktek kita akan menemukan ternyata
nyatanya kadang gag sesuai dengan teori ya, makanya diperlukan
fleksibilitas dan improvisasi disini, hal ini tentunya tidak bisa kita
temukan kalau kita cuma teori saja tanpa praktek langsung. Bahkan ketika
ketika masih mempelajari tingkat basic kemudian mendapatkan kesulitan
yang sebenarnya ada di level intermediete bahkan advance pun kita pasti
bakal penasaran dan mencari jawabannya. Luar biasa bukan, kita udah
lebih cepat dibandingakan yang gag mau mempraktekan.
Pernah
saya berbincang dengan seorang sahabat, mengenai apa bedanya trainer
dan trainee, triner artinya One who trains; an instructor; especially,
one who trains or prepares men, horses, etc., for exercises requiring
physical agility and strength. Trainer seorang adalah seorang
instruktur yang pekerjaannya melatih bisa orang, bisa binatang agar
punya kemampuan. Sedangkan trainee someone who is being trained, artinya
seseorang yang melakukan latihan. Arti yang berbeda, mungkin banyak
diantara kita yang mempunyai cita-cita sebagai seorang trainer. Nah
kalau kita mau menjadi seorang trainer yang baik sebaiknya punya jam
tinggi, pengalaman yang banyak, dll.. dan seorang trainer pun harus
banyak belajar untuk menjadi seorang triner yang baik, ada kalanya
seorang triner sengaja menjadi trainee dalam proses trinernya. Jadi
seorang yang mengajar untuk belajar,.
Nah kenapa ya kita
kok cenderung gag mau praktek? Tarik nafas sejenak, rilekskan diri kita
dulu, dan mulai cari kenapa kita cenderung gitu.. kebanyakan dari kita
termasuk tipe orang yang “sok prefeksionis” nunggu sempurna dulu baru
jalan, sebenarnya prefeksionis ini yang paling berbahaya dalam kita mau
memulai dalam berkarya. Kalau menurut saya kalau kita masih dalam
tataran belajar, jalan ya jalan aja dulu.. mengenai masalah kita pikir
sambil jalan(hehe.. mikir pake otak kanan) karena dari trial dan eror
ilmu bakalan lebih nyantel.
Mulai saja apa yang ingin kita
lakukan, jalani aja, mengikuti semboyan sepatu olah raga nike “just do
it” yah simple.. lakukan.. sebuah proses pembelajaran yang luar biasa
akan kita dapatkan disini..
Sabtu, 11 Februari 2012
Jumat, 16 Desember 2011
Menjadi Pembelajar Seumur Hidup
Beberapa hari yang lalu saya pribadi sempat merasa capek dengan apa
yang saya lakukan, setiap hari hanya baca buku, ikut seminar-seminar,
belajar di kelas formal dan saat itu tiba rasa jenuh akan semua itu. Apa
yang sebenarnya saya cari selama ini? itu yang sempat saya pikirkan
saat itu. Lelah dengan rutinitas belajar dan belajar. Banyak yang saya
ingin tahu, lantas apa kalau tahu. Itu juga pertanyaan racun yang sempat
hinggap di kepala saya dan hampir saja menggerogoti seluruh semangat
untuk belajar dan menemukan hal-hal baru saat itu.
Mungkin banyak diantara teman-teman yang merasakan hal yang sama, merasa jenuh dan lelah akan pembelajaran, roda memang berputar kadang diatas dan kadang diatas. Demikian pula hidup kita, dan kadang orang bilang semangat kita juga. Kalau masalah semangat ini saya termasuk yang percaya bahwa putaran semangat bisa kita atur terus, bisa kita usahakan agar tetap diatas terus. Semangat on terus.
Karena saya yakin semangat itu bisa kita atur agar terus di atas, salah satunya dengan mengubah niat saya belajar yang awalnya karena pengen tahu saja, saya rubah menjadi saya ingin menjadi seorang pembelajar seumur hidup. Pembelajar adalah orang yang selalu belajar disetiap kesempatan waktunya, setiap harinya adalah belajar. Semoga dengan mengubah niat ini semangat selalu membaca buku, diskusi, dan mencari ilmu dari guru terus berkobar dalam hati saya. Dan semoga dengan ini bisa membawa saya ke derajat lebih tinggi dihadapanNya, dihadapan sang kuasa.
Satu hal yang saya pelajari hari ini Belajar sesungguhnya adalah dengan menuliskannya kembali, kenapa karena tulisan itu abadi, apabila ilmu itu tidak kita abadikan hanya bersifat sementara dan akan hilang. Sepintar apapun orang, sebesar apapun karya tapi kalau tidak abadi juga akan sia-sia. Sesuatu yang hanya diomongkan akan lenyap dan sirna, dan dengan dituliskan semuanya akan abadi.
Hal ini mengingatkan saya akan tugas kuliah yang musti dikerjakan, tugas menulis yang gag akan selesai kalau tidak dikerjakan dengan konsisten dari dalam diri ini, semangat berkarya, semangat belajar, semangat berbagi..
Mungkin banyak diantara teman-teman yang merasakan hal yang sama, merasa jenuh dan lelah akan pembelajaran, roda memang berputar kadang diatas dan kadang diatas. Demikian pula hidup kita, dan kadang orang bilang semangat kita juga. Kalau masalah semangat ini saya termasuk yang percaya bahwa putaran semangat bisa kita atur terus, bisa kita usahakan agar tetap diatas terus. Semangat on terus.
Karena saya yakin semangat itu bisa kita atur agar terus di atas, salah satunya dengan mengubah niat saya belajar yang awalnya karena pengen tahu saja, saya rubah menjadi saya ingin menjadi seorang pembelajar seumur hidup. Pembelajar adalah orang yang selalu belajar disetiap kesempatan waktunya, setiap harinya adalah belajar. Semoga dengan mengubah niat ini semangat selalu membaca buku, diskusi, dan mencari ilmu dari guru terus berkobar dalam hati saya. Dan semoga dengan ini bisa membawa saya ke derajat lebih tinggi dihadapanNya, dihadapan sang kuasa.
Satu hal yang saya pelajari hari ini Belajar sesungguhnya adalah dengan menuliskannya kembali, kenapa karena tulisan itu abadi, apabila ilmu itu tidak kita abadikan hanya bersifat sementara dan akan hilang. Sepintar apapun orang, sebesar apapun karya tapi kalau tidak abadi juga akan sia-sia. Sesuatu yang hanya diomongkan akan lenyap dan sirna, dan dengan dituliskan semuanya akan abadi.
Hal ini mengingatkan saya akan tugas kuliah yang musti dikerjakan, tugas menulis yang gag akan selesai kalau tidak dikerjakan dengan konsisten dari dalam diri ini, semangat berkarya, semangat belajar, semangat berbagi..
Selasa, 22 November 2011
Buku Bagi Anak Nelayan Tanjungmas
Ilmu bagi anak-anak nelayan di daerah Tanjungmas seperti
telaga teduh bagi musafir yang berkelana. Perihnya hidup karena
kurangnya pengetahuan akan sirna seiring datangnya cakrawala ilmu,
bernama : buku.
Daerah yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan ini tergolong masyarakat sederhana. Daerah tersebut rawan terjadi rob, bahkan setiap malam rumah-rumah yang berada di sekitar tambak kerap digenangi rob hingga ketinggian satu meter. Tempat yang mereka huni tersebut tergolong daerah yang sulit dijangkau oleh khalayak. Hal ini dikarenakan akses transportasi yang belum memadai yakni jalan menuju salah satu RT di Tambekrejo yang terpisahkan oleh tambak sehingga orang yang ingin menjangkau daerah tersebut harus melewati jembatan nonpermanen yang terbuat dari bambu. Penduduk di daerah tersebut rata-rata berpendidikan rendah, selepas SD biasanya mereka memutuskan untuk bekerja atau membantu orang tua mencari ikan. Kondisi tersebut membuat pola pikir yang tidak pernah berubah dan memprihatinkan. Realitas inilah yang mendorong kami untuk merintis sebuah rumah pintar yang dilengkapi dengan buku-buku bacaan dan pelajaran sebagai wadah memperluas pengetahuan anak-anak usia sekolah.
Rupanya tinggal di ibu kota Provinsi Jawa Tengah bukanlah jaminan untuk menjadi orang yang berilmu. Banyak di antara anak-anak usia sekolah yang tidak mampu membaca dan berhitung, sebagian dari mereka mereka memutuskan untuk berhenti bersekolah, dan bekerja tanpa bekal ilmu yang memadai. Alih-alih untuk membeli buku, sebagian besar pendapatan warga sudah di "booking" untuk mencukupi kebutuhan harian mereka. Kalaupun ada sisa, uang mereka habis untuk memperbaiki rumah yang setiap malam terendam rob. Oleh karena itu, tidak heran jika beberapa anak-anak nelayan memutuskan untuk putus sekolah karena jeratan ekonomi atau pola pikir yang belum maju, buat apa bersekolah toh ujung-ujungnya tetap miskin. Kalaupun ada anak-anak yang bertahan untuk bersekolah, namun fasilitas yang mereka miliki masih sangat terbatas, terutama buku pelajaran dan buku bacaan. Tidak heran jika keberadaan rintisan rumah pintar yang dilengkapi dengan buku-buku bacaan dan pelajaran pada akhirnya bisa menjadi salah satu gerbang bagi anak-anak di Tambakrejo untuk memperluas cakrawala pengetahuan mereka.
rumah pintar ini akan didirikan oleh mahasiswa Universitas Negri Semarang (UNES) dan dibantu oleh tim dari sedekahpendidikan.org, Kami bermaksud mengajak saudara, teman-teman, dan siapapun untuk membantu dalam pengadaan buku pelajaran ini, kegiatan ini sekaligus membuat sebuah rintisan rumah pintar yang dilengkapi dengan buku-buku bacaan dan pelajaran. Berdasarkan rencana, rintisan rumah pintar akan bertempat di gedung PAUD Sifana yang merupakan sebuah PAUD binaan PT Pertamina dan Unnes. Meskipun bangunan rumah pintar yang kami rintis masih menumpang dengan bangunan lain, tapi hal ini tidak menutup kemungkinan bagi anak-anak yang ingin belajar untuk berkunjung ke sana.
Kami mengajak para donatur untuk untuk mengulurkan tangan dan ikut menyumbang kepada tunas bangsa yang merindukan ilmu untuk kehidupan yang lebih baik. Sumbangan dapat disalurkan dengan menghubungi tim sedekah pendidikan no hp 085643434455 (Y.P. Nugraha)
Daerah yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai nelayan ini tergolong masyarakat sederhana. Daerah tersebut rawan terjadi rob, bahkan setiap malam rumah-rumah yang berada di sekitar tambak kerap digenangi rob hingga ketinggian satu meter. Tempat yang mereka huni tersebut tergolong daerah yang sulit dijangkau oleh khalayak. Hal ini dikarenakan akses transportasi yang belum memadai yakni jalan menuju salah satu RT di Tambekrejo yang terpisahkan oleh tambak sehingga orang yang ingin menjangkau daerah tersebut harus melewati jembatan nonpermanen yang terbuat dari bambu. Penduduk di daerah tersebut rata-rata berpendidikan rendah, selepas SD biasanya mereka memutuskan untuk bekerja atau membantu orang tua mencari ikan. Kondisi tersebut membuat pola pikir yang tidak pernah berubah dan memprihatinkan. Realitas inilah yang mendorong kami untuk merintis sebuah rumah pintar yang dilengkapi dengan buku-buku bacaan dan pelajaran sebagai wadah memperluas pengetahuan anak-anak usia sekolah.
Rupanya tinggal di ibu kota Provinsi Jawa Tengah bukanlah jaminan untuk menjadi orang yang berilmu. Banyak di antara anak-anak usia sekolah yang tidak mampu membaca dan berhitung, sebagian dari mereka mereka memutuskan untuk berhenti bersekolah, dan bekerja tanpa bekal ilmu yang memadai. Alih-alih untuk membeli buku, sebagian besar pendapatan warga sudah di "booking" untuk mencukupi kebutuhan harian mereka. Kalaupun ada sisa, uang mereka habis untuk memperbaiki rumah yang setiap malam terendam rob. Oleh karena itu, tidak heran jika beberapa anak-anak nelayan memutuskan untuk putus sekolah karena jeratan ekonomi atau pola pikir yang belum maju, buat apa bersekolah toh ujung-ujungnya tetap miskin. Kalaupun ada anak-anak yang bertahan untuk bersekolah, namun fasilitas yang mereka miliki masih sangat terbatas, terutama buku pelajaran dan buku bacaan. Tidak heran jika keberadaan rintisan rumah pintar yang dilengkapi dengan buku-buku bacaan dan pelajaran pada akhirnya bisa menjadi salah satu gerbang bagi anak-anak di Tambakrejo untuk memperluas cakrawala pengetahuan mereka.
rumah pintar ini akan didirikan oleh mahasiswa Universitas Negri Semarang (UNES) dan dibantu oleh tim dari sedekahpendidikan.org, Kami bermaksud mengajak saudara, teman-teman, dan siapapun untuk membantu dalam pengadaan buku pelajaran ini, kegiatan ini sekaligus membuat sebuah rintisan rumah pintar yang dilengkapi dengan buku-buku bacaan dan pelajaran. Berdasarkan rencana, rintisan rumah pintar akan bertempat di gedung PAUD Sifana yang merupakan sebuah PAUD binaan PT Pertamina dan Unnes. Meskipun bangunan rumah pintar yang kami rintis masih menumpang dengan bangunan lain, tapi hal ini tidak menutup kemungkinan bagi anak-anak yang ingin belajar untuk berkunjung ke sana.
Kami mengajak para donatur untuk untuk mengulurkan tangan dan ikut menyumbang kepada tunas bangsa yang merindukan ilmu untuk kehidupan yang lebih baik. Sumbangan dapat disalurkan dengan menghubungi tim sedekah pendidikan no hp 085643434455 (Y.P. Nugraha)
Langganan:
Postingan (Atom)