Laman

Jumat, 06 April 2012

Bahagia Ala Otak Kanan atau Otak Kiri

Note ini ditulis buat nambahin wawancara si Ocha kemarin, hehehe, siapa tahu bisa jadi tambahan materi buat skripsinya cha. Barusan saya kepikiran tentang konsep bahagia lagi, masih berkaitan dengan bahagia dengan syarat dan bahagia tanpa syarat.

Syarat itu cenderung muncul ketika kita berfikir tentang sebab akibat dari suatu perbuatan atau tindakan. Untuk kasus bahagia dengan syarat, akibatnya bahagia dan syaratnya adalah sesuatu yang menyebabkan bahagia itu sendiri, misalnya kalau saya bisa mendapatkan gaji 100 juta perbulan berarti saya bahagia, jika saya bisa membeli rumah sendiri saya bahagia, apabila saya bisa mengerjakan tugas saya tepat waktu saya akan bahagia, apabila saya bisa menyenangkan orang tua saya bahagia.

Ada sebagian orang juga berfikir buat bahagia kok repot-repot, yang penting bersyukur saja cukup. Mengenai masalah bersyukur saya pernah membaca “sentilan” seorang sastrawan, idola saya mas Prie GS. “Buat bersyukur kok repot-repot, cukup meraba telinga kita dan menemukan telinga kita masih ada dan bekerja sesuai fungsinya itu sudah cukup untuk membuat saya bersyukur”. Untuk bersyukur dan bahagia sebenarnya tidak susah tapi kita saja yang membuatnya susah untuk kita alami.

Sedikit mereview dan sekedat menyegarkan kembali ingatan kita tentang otak kanan dan otak kiri. Berpikir ala otak kiri, pola pemikirannya cenderung Systematic, Runtut, penuh pertimbangan, Pikiran yang sangat logis, taat pada azas, sibuk mengamati efek dan perbandingan.  Segalanya perlu dasar, segalanya perlu pertimbangan, segalanya perlu sebab itu yang dipikirkan oleh orang-orang yang cenderung punya pemikiran tipe otak kiri, bisa dikatakan juga kalau pemikiran ini dilakukan oleh-oleh orang-orang yang berusaha melogika semua fenomena yang terjadi dalam hidupnya (thinking).

Berpikir ala otak kanan cenderung Menyukai spontanitas, penuh kebebasan, tanpa aturan. Proses berpikir PASIF, terkesan seadanya.  Biasanya juga pola berpikir ini dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai pemikiran berdasarkan emosi, sensing, dan intusii mereka. “Buat kaya gitu kok repot-repot”,  itu kata yang sering di ucapkan oleh orang-orang tipe oka’ers, otak kanan junkie. Orang yang otak kanan cenderung orang yang berani dan cepat mengambil keputusan dalam hidupnya, menurut saya, berpikir ala otak kanan ini cenderung bagus untuk banyak kasus. Contohnya ketika kita mau berbuat baik, gag usah dipikir jalan aja. Untuk memulai usaha, banyak pengusaha yang memulai bisnisnya dengan istilah “Asal mlaku wae, sing penting sukses” asal jalan aja yang penting sukses, kalau ada masalah dipikir nanti.

Menurut saya kedua cara bahagia ini semua bagus kita terapkan ada kalanya kita menerapkan bahagia tanpa syarat dan ada kalanya kita menetapkan bahagia dengan syarat. Nah pertanyaannya kapan baiknya kita memakainya syarat  dan tanpa syarat.. Kalau saya menjawabnya setiap waktu kita pakai dua-duanya, hehehe.. sedikit rakus memang.hehehe..

Kenapa kok dua-duanya dipake terus, setiap waktu pula??

Sebelum pertanyaan diatas saya jawab, state bahagia itu ketika suasana hati terasa ringan banget (maksudnya tidak ada beban yang dirasakan, state emosi yang muncul adalah rasa syukur teramat terhadap apa yang kita miliki, rasa kecukupan, rasa puas akan sesuatu, senang , semangat menggelora, hawanya senyam-senyum sendiri(bukan senyam-senyum gila lho), dan masih banyak lagi state yang gag bisa diomomngkan dengan kata-kata..hehehehe

Bahagia tanpa syarat tu wujud kita bersyukur dengan apa yang telah kita peroleh, bersyukur dengan kesehatan kita hari ini, bersyukur telah diberi orang-orang yang mencintai kita, bersyukur dengan setiap udara yang bisa kita hirup. Bersyukur dengan apa yang allah beri secara Cuma-Cuma ini, allah aja memberinya tanpa syarat apapun, kok kita bahagia aja perlu syarat.. hehehe

Bahagia dengan syarat juga baik tujuannya agar kita selalu termotivasi, selalu berhasrat untuk mencapai apa yang telah kita impikan, dengan kita memakai syarat bawah sadar kita akan merespon dan mengejar apa yang telah kita syaratkan tadi, toh bawah sadar kita selalu ingin membuat kita bahagia. Bawah sadar kita selalu ingin yang terbaik buat kita, orang yang mempunyai hasrat yang tinggi untuk mencapai apa yang diimpikannya cenderung mempunyai semangat yang tinggi dalam hidupnya. Tubuhnya merespon untuk bekerja, berpikir, dan berbuat lebih cepat.

Ujung-ujungnya semua dikembalikan ke diri kita sendiri, semua ada baiknya selama itu membuat kita setiap hari bersemangat dan tiap hari selalu mengucap syukur kepada sang pencipta.
                                                                                                                                                       _Salam yepe Adi

Sabtu, 11 Februari 2012

Memanfaatkan ilmu yang sedikit ini

Pertanyaannya bagaimana cara memanfaatkan ilmu yang sedikit ini, ntar lah kalau ilmunya sudah banyak baru praktek, ntarlah kalau udah dapat gelar baru memulai, ntarlah nunggu waktu yang tepat untuk memulai ngumpulin ilmu dulu.. hehehe

Ini alasan2 bijak yang keliatannya bagus, tapi dibalik itu malah membuat diri kita ngak maju2 ke level kualitas yang lebih tinggi, yah sebenarnya yang kita perlukan bagaimana dengan ilmu yang sedikit ini, dengan ilmu yang sudah kita tahu tapi bisa kita manfaatkan secara otimal untuk diri kita sendiri dan orang lain. Selain skill kita meningkat, percepatan akan pembelajaran akan terjadi disini. Ketika kita berpraktek kita akan menemukan ternyata nyatanya kadang gag sesuai dengan teori ya, makanya diperlukan fleksibilitas dan improvisasi disini, hal ini tentunya tidak bisa kita temukan kalau kita cuma teori saja tanpa praktek langsung. Bahkan ketika ketika masih mempelajari tingkat basic kemudian mendapatkan kesulitan yang sebenarnya ada di level intermediete bahkan advance pun kita pasti bakal penasaran dan mencari jawabannya. Luar biasa bukan, kita udah lebih cepat dibandingakan yang gag mau mempraktekan.

Pernah saya berbincang dengan seorang sahabat, mengenai apa bedanya trainer dan trainee, triner artinya One who trains; an instructor; especially, one who trains or prepares men, horses, etc., for exercises requiring physical agility and strength.  Trainer seorang adalah seorang instruktur yang pekerjaannya melatih bisa orang, bisa binatang agar punya kemampuan. Sedangkan trainee someone who is being trained, artinya seseorang yang melakukan latihan. Arti yang berbeda, mungkin banyak diantara kita yang mempunyai cita-cita sebagai seorang trainer. Nah kalau kita mau menjadi seorang trainer yang baik sebaiknya punya jam tinggi, pengalaman yang banyak, dll.. dan seorang trainer pun harus banyak belajar untuk menjadi seorang triner yang baik, ada kalanya seorang triner sengaja menjadi trainee dalam proses trinernya. Jadi seorang yang mengajar untuk belajar,.

Nah kenapa ya kita kok cenderung gag mau praktek? Tarik nafas sejenak, rilekskan diri kita dulu, dan mulai cari kenapa kita cenderung gitu.. kebanyakan dari kita termasuk tipe orang yang “sok prefeksionis” nunggu sempurna dulu baru jalan, sebenarnya prefeksionis ini yang paling berbahaya dalam kita mau memulai dalam berkarya. Kalau menurut saya kalau kita masih dalam tataran belajar, jalan ya jalan aja dulu.. mengenai masalah kita pikir sambil jalan(hehe.. mikir pake otak kanan) karena dari trial dan eror ilmu bakalan lebih nyantel.

Mulai saja apa yang ingin kita lakukan, jalani aja, mengikuti semboyan sepatu olah raga nike “just do it” yah simple.. lakukan.. sebuah proses pembelajaran yang luar biasa akan kita dapatkan disini..

Jumat, 16 Desember 2011

Menjadi Pembelajar Seumur Hidup

Beberapa hari yang lalu saya pribadi sempat merasa capek dengan apa yang saya lakukan, setiap hari hanya baca buku, ikut seminar-seminar, belajar di kelas formal dan saat itu tiba rasa jenuh akan semua itu. Apa yang sebenarnya saya cari selama ini? itu yang sempat saya pikirkan saat itu. Lelah dengan rutinitas belajar dan belajar. Banyak yang saya ingin tahu, lantas apa kalau tahu. Itu juga pertanyaan racun yang sempat hinggap di kepala saya dan hampir saja menggerogoti seluruh semangat untuk belajar dan menemukan hal-hal baru saat itu.

Mungkin banyak diantara teman-teman yang merasakan hal yang sama, merasa jenuh dan lelah akan pembelajaran, roda memang berputar kadang diatas dan kadang diatas. Demikian pula hidup kita, dan kadang orang bilang semangat kita juga. Kalau masalah semangat ini saya termasuk yang percaya bahwa putaran semangat bisa kita atur terus, bisa kita usahakan agar tetap diatas terus. Semangat on terus.

Karena saya yakin semangat itu bisa kita atur agar terus di atas, salah satunya dengan mengubah niat saya belajar yang awalnya karena pengen tahu saja, saya rubah menjadi saya ingin menjadi seorang pembelajar seumur hidup. Pembelajar adalah orang yang selalu belajar disetiap kesempatan waktunya, setiap harinya adalah belajar. Semoga dengan mengubah niat ini semangat selalu membaca buku, diskusi, dan mencari ilmu dari guru terus berkobar dalam hati saya. Dan semoga dengan ini bisa membawa saya ke derajat lebih tinggi dihadapanNya, dihadapan sang kuasa.

Satu hal yang saya pelajari hari ini Belajar sesungguhnya adalah dengan menuliskannya kembali, kenapa karena tulisan itu abadi, apabila ilmu itu tidak kita abadikan hanya bersifat sementara dan akan hilang. Sepintar apapun orang, sebesar apapun karya tapi kalau tidak abadi juga akan sia-sia. Sesuatu yang hanya diomongkan akan lenyap dan sirna, dan dengan dituliskan semuanya akan abadi.

Hal ini mengingatkan saya akan tugas kuliah yang musti dikerjakan, tugas menulis yang gag akan selesai kalau tidak dikerjakan dengan konsisten dari dalam diri ini, semangat berkarya, semangat belajar, semangat berbagi..